• kepegawaian@undana.ac.id
  • (0380) 881580
News Photo

PKM di Sumba Tengah Undana Ubah Lahan Kering Jadi Produktif dengan Irigasi Tetes

Keterbatasan air pada musim kemarau menjadi salah satu tantangan serius bagi masyarakat di wilayah lahan kering Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi tersebut membuat sebagian lahan pertanian hanya produktif ketika musim hujan, sementara saat kemarau banyak lahan dibiarkan tidak dimanfaatkan.

Persoalan itu coba dijawab Universitas Nusa Cendana (Undana) melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Berdampak Tahun 2026 dengan menghadirkan teknologi sederhana namun aplikatif berupa irigasi tetes berbasis tandon gravitasi.

Program bertema “Implementasi Teknologi Irigasi Tetes Berbasis Tandon Gravitasi untuk Mendukung PK-POM” tersebut dilaksanakan di Desa Wairasa, Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat, Kabupaten Sumba Tengah, pada 27 Juli 2026.

Program ini tidak berdiri sendiri. Undana pada 2026 mengarahkan PKM ke delapan kabupaten/kota di NTT dengan konsep PKM Berdampak. Pelaksanaan program tersebut kemudian diperkuat dengan penempatan mahasiswa melalui KKN Berdampak, sehingga kegiatan dosen dan mahasiswa diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling bersinergi untuk menghasilkan perubahan yang lebih nyata bagi masyarakat.

Ketua Tim PKM, Prof. Dr. Paul G. Tamelan, M.Si., mengatakan kebijakan pemusatan lokasi pengabdian tersebut dilakukan agar kegiatan PKM tidak hanya banyak secara jumlah, tetapi juga memiliki dampak yang dapat dilihat dan dirasakan masyarakat.

Menurutnya, selama ini kegiatan pengabdian dosen cenderung tersebar karena masing-masing dosen menentukan sendiri lokasi dan topik yang ingin dilaksanakan.

“Setiap tahun pengabdian masyarakat dipilih sendiri oleh dosen dan akhirnya terpencar ke mana saja. Memang banyak kegiatan yang dilakukan, tetapi belum tentu terlihat dampaknya,” ujar Prof. Paul saat diwawancarai, Senin (14/9/2026).

Karena itu, pada 2026 Undana menetapkan sejumlah wilayah sebagai fokus PKM. Dengan pola tersebut, berbagai kompetensi dosen diarahkan untuk menangani persoalan masyarakat secara lebih terintegrasi.

“Tujuannya supaya kelihatan berdampak,” tegasnya.

Di Kabupaten Sumba Tengah, salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kemiskinan, ketahanan pangan dan penanganan stunting.

Prof. Paul menjelaskan, timnya berkolaborasi dengan dua kelompok pengabdian lainnya di Desa Wairasa. Masing-masing kelompok memiliki fokus yang berbeda, tetapi dirancang untuk saling mendukung.

Ada kelompok yang fokus pada pemanfaatan lahan kosong untuk ditanami sayuran dan tanaman pangan. Kelompok lainnya berkaitan dengan bagaimana tanaman dipelihara hingga menghasilkan produksi serta pemilihan bibit unggul dan kesesuaian lahan.

Sementara tim Prof. Paul mengambil bagian pada penyediaan infrastruktur pengairan.

“Topik saya adalah program infrastruktur irigasi tetes berbasis tandon untuk mendukung PK-POM dalam pengentasan kemiskinan dan penanganan stunting di Desa Wairasa, Sumba Tengah,” jelasnya.

Menurut Prof. Paul, pemilihan Wairasa didasarkan pada kesesuaian antara persoalan masyarakat dengan kompetensi tim PKM.

Selain itu, wilayah tersebut memiliki persoalan keterbatasan air, khususnya ketika memasuki musim kemarau.

“Curah hujannya terbatas. Kalau musim hujan hanya sekitar tiga bulan, sementara sembilan bulan lainnya relatif kering. Karena itu, lahan yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan setelah musim hujan sering dibiarkan,” jelasnya.

Melalui koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah, Dinas Pertanian, pemerintah kecamatan dan pemerintah desa, tim kemudian menentukan lokasi yang dianggap tepat untuk dijadikan percontohan.

Salah satu modal penting yang ditemukan tim di Desa Wairasa adalah keberadaan sumur bor yang masih dapat dimanfaatkan.

Daripada sumber air tersebut tidak digunakan secara maksimal, tim PKM kemudian membangun sistem sederhana dengan menyalurkan air dari sumur bor menuju tandon.

Tandon ditempatkan pada posisi tertentu sehingga air dapat mengalir menggunakan gaya gravitasi. Selanjutnya, air dialirkan melalui jaringan perpipaan menuju lahan pertanian.

Pada titik-titik tertentu dipasang sistem irigasi tetes sehingga air tidak dialirkan secara berlebihan, melainkan diteteskan langsung ke area tanaman.

“Air dari sumur bor kita suplai ke tandon. Dari tandon kita sambungkan dengan perpipaan ke lokasi lahan yang ditanami. Kemudian kita melakukan teknik tertentu sehingga air jatuh sebagai tetesan langsung pada tanaman,” kata Prof. Paul.

Teknologi tersebut sengaja dibuat sederhana. Salah satu pertimbangannya adalah agar masyarakat tidak bergantung pada teknologi yang rumit dan mahal.

Aliran air dapat dikontrol menggunakan katup atau stop kran. Ketika tanaman membutuhkan air, aliran dibuka dalam waktu tertentu, kemudian ditutup kembali.

“Misalnya satu hari kita buka sekitar setengah jam untuk meneteskan air, kemudian kita tutup. Nanti sore atau besok kita buka lagi sesuai kebutuhan,” jelasnya.

Dengan pola tersebut, penggunaan air menjadi lebih efisien sekaligus menjaga kelembaban tanah agar tetap stabil.

Keunggulan lain dari sistem yang diterapkan adalah penggunaan tandon gravitasi, sehingga air dari tandon menuju tanaman tidak membutuhkan pompa listrik.

Menurut Prof. Paul, prinsip tersebut sangat penting untuk diterapkan di wilayah yang menghadapi persoalan keterbatasan air dan biaya operasional.

“Ini sistem tandon gravitasi. Air kita tempatkan pada ketinggian tertentu sehingga dapat mengalir sendiri. Jadi tidak perlu menggunakan pompa listrik untuk mengalirkannya ke tanaman,” ujarnya.

Sistem tersebut juga memungkinkan masyarakat mengatur volume dan waktu pemberian air berdasarkan kebutuhan tanaman.

Dengan begitu, air yang tersedia tidak langsung habis karena digunakan secara berlebihan.

“Dengan air yang sedikit, tanaman tetap bisa tumbuh. Kita menjaga kelembaban tanah tetap stabil sehingga unsur hara dapat diserap tanaman,” tambahnya.

Program PKM ini juga diarahkan untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap lahan yang selama ini dianggap kurang produktif.

Prof. Paul mengatakan, sebagian lahan yang tidak lagi digunakan setelah musim hujan sebenarnya masih dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan.

Pada lahan percontohan sekitar 70 hingga 100 meter persegi, tim mencoba mengembangkan tanaman yang dapat memenuhi kebutuhan pangan bergizi keluarga.

Konsep tersebut sejalan dengan upaya pemanfaatan pekarangan sebagai ruang produksi pangan.

“Di Sumba, jarak rumah biasanya cukup jauh. Masyarakat bisa memiliki lahan sekitar rumah yang cukup luas, bahkan setengah sampai satu hektare. Sisa lahan itu bisa dimanfaatkan menjadi pekarangan produktif,” katanya.

Tidak hanya sayuran, konsep tersebut juga dapat dikembangkan untuk sumber protein lainnya, seperti telur dan ikan, sehingga kebutuhan pangan bergizi keluarga dapat dipenuhi secara lebih mandiri.

Bagi Prof. Paul, penerapan teknologi irigasi tetes tidak sekadar berkaitan dengan pertanian dan penghematan air.

Program tersebut memiliki kaitan langsung dengan persoalan gizi masyarakat.

Dengan tersedianya sayuran dan sumber pangan bergizi dari lahan sendiri, keluarga memiliki alternatif untuk memenuhi kebutuhan pangan tanpa sepenuhnya bergantung pada pembelian dari pasar.

“Kita fokus di NTT ini adalah penanganan stunting dan kemiskinan. Salah satu caranya adalah bagaimana memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam tanaman lokal yang dapat memberikan manfaat dan menambah protein bagi masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari berapa banyak tanaman yang berhasil ditanam, tetapi dari sejauh mana masyarakat mampu mempertahankan produksi pangan secara mandiri.

“Pengentasan kemiskinan dan penanganan stunting bisa dimulai dari rumah tangga sendiri,” tegasnya.

Dalam pelaksanaan PKM, masyarakat tidak ditempatkan sebagai penerima manfaat pasif.

Tim menggunakan pendekatan partisipatif dengan melibatkan masyarakat sejak proses awal.

Masyarakat ikut dalam pengolahan lahan, pemasangan dan pengenalan sistem pengairan serta proses budidaya tanaman.

Prof. Paul menegaskan, tim PKM sengaja tidak mengerjakan seluruh proses sendiri karena tujuan utama program adalah memastikan teknologi tersebut dapat dilanjutkan masyarakat setelah kegiatan pengabdian berakhir.

“Kita memang memberikan contoh, tetapi masyarakat harus ikut berpartisipasi. Harapannya, setelah kita pulang, program ini sudah menjadi milik mereka sendiri,” ujarnya.

Tanaman yang dikembangkan diproyeksikan memiliki masa produksi sekitar 90 hingga 100 hari, tergantung jenis tanaman dan kondisi pertumbuhan.

Keberlanjutan program juga diperkuat dengan keberadaan mahasiswa KKN.

Undana memberikan ruang bagi mahasiswa untuk tetap berada di lokasi selama beberapa bulan guna membantu proses pemeliharaan tanaman hingga panen.

Sekitar 10 mahasiswa dilibatkan dalam proses pendampingan tersebut.

Kehadiran mahasiswa menjadi bagian penting dari konsep KKN Berdampak, yang dirancang berjalan beriringan dengan PKM Berdampak.

Dengan demikian, dosen tidak hanya hadir memberikan teknologi, sementara mahasiswa tidak sekadar menjalankan program KKN. Keduanya diarahkan untuk membangun ekosistem pendampingan yang berkelanjutan di masyarakat.

“Kita harapkan mahasiswa tetap berada di sana sampai panen. Setelah panen, infrastrukturnya kita serahkan penuh kepada masyarakat agar mereka bisa melanjutkan,” kata Prof. Paul.

Prof. Paul menegaskan, irigasi tetes yang diterapkan di Wairasa bukan sekadar proyek yang selesai ketika kegiatan PKM berakhir.

Sistem tersebut dirancang sebagai model percontohan yang dapat ditiru masyarakat lainnya.

Jika masyarakat yang menjadi penerima manfaat pertama berhasil mengembangkan tanaman dan memanfaatkan sistem pengairan tersebut, masyarakat di sekitar diharapkan dapat mengadopsinya dengan menyesuaikan kondisi dan kemampuan masing-masing.

“Ini hanya merupakan model atau replika sebagai contoh. Ketika petani yang kita kasih model berhasil, tetangga-tetangga dan masyarakat di sekitarnya juga bisa ikut melakukan hal yang sama,” ujarnya.

Ia berharap teknologi sederhana tersebut dapat menjadi salah satu alternatif menghadapi persoalan pertanian di wilayah lahan kering.

Sebab, menurutnya, masyarakat tidak harus menunggu datangnya musim hujan untuk kembali mengolah lahan.

“Tidak harus menunggu musim hujan baru menanam. Setelah hujan selesai dan air tanah masih ada, kenapa tidak dimanfaatkan?” katanya.

Pada akhirnya, teknologi irigasi tetes berbasis tandon gravitasi yang diterapkan Undana di Desa Wairasa bukan hanya berbicara tentang bagaimana meneteskan air ke tanaman.

Lebih jauh, program tersebut membawa gagasan bahwa lahan kering tetap dapat produktif, air yang terbatas dapat dikelola secara efisien, dan ketahanan pangan keluarga dapat dibangun dari halaman serta lahan yang dimiliki masyarakat sendiri.

Melalui sinergi PKM Berdampak dan KKN Berdampak, Undana berharap model tersebut dapat menjadi contoh bahwa pengabdian perguruan tinggi tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi meninggalkan pengetahuan, teknologi, infrastruktur dan kemampuan yang dapat terus digunakan masyarakat setelah kampus meninggalkan lokasi.(*)

Sumber  : https://www.nttsatu.id/pkm-di-sumba-tengah-undana-ubah-lahan-kering-jadi-produktif-dengan-irigasi-tetes/

Share This News

” Pendidikan Tinggi Bermutu, Relevan dan Berdaya Saing “


Tujuan kami adalah menjadikan Undana sebagai perguruan tinggi yang berorientasi global dengan cara mewujudkan pendidikan tinggi yang bermutu, relevan dan berdaya saing, lalu menjadi universitas riset dalam bidang lahan kering kepulauan, serta mewujudkan pengabdian pada masyarakat yang berorientasi kesejahteraan masyarakat.

Undana

Unggul